Jadi tiket kereta yang saya perebutkan bersama calon pemudik lain, tiga bulan lalu, akhirnya dicancel sepihak oleh KAI. Sempet nyesel, tau gini nggak rebutan tengah malem stand by cari tiket yang setiap refresh di halaman website, tiket yg available selalu berkurang. Tau gini, mending kemarin begadang main pubg aja kan ya, haha.

 

The Journey Starts Here …

Saya memutuskan untuk pindah ke Jakarta awal Januari lalu. Mulai bekerja disana, di salah satu softwarehouse. Karena beberapa alasan dari CEO, kantor saya pindah dari Jakarta Barat, ke Depok. Sebenarnya masih tidak jauh dari Jakarta (masuk Cimanggis, perbatasan Depok – Jaksel). Tapi tetap saja polusi udara membuat saya mulai rindu Lumajang. Jakarta udah sesak gak ada ruang hijau, sekalinya ada ruang hijau pasti ya daerah perkuburan :D.

(saya openmic di ketawa comedy club)

Sebernarnya virus corona sudah ada waktu itu, tapi masih belum se-viral akhir – akhir ini, bahkan masuk ke Indonesia-pun belum. Saya merasa aman – aman saja, tetap beraktivitas. Sesekali saya mengunjungi beberapa Comedy Club di Jakarta untuk bercerita tentang desa saya dan hal – hal konyol yg ada disana, haha. Senang sekali rasanya, punya pekerjaan di bidang yang saya sukai, saya juga bisa semangat berkomedi disini. Saya juga mulai mengenal komedian – komedian hebat yang biasa kita lihat di TV dan sayapun sepertinya bisa coba bangun karir saya sendiri (meskipun ya agak mustahil sih, haha).

Saya tinggal di Kosan yang tidak jauh dari kantor dan cukup dekat juga dengan Universitas Indonesia. Weekend biasanya saya habisnya untuk iseng naik KRL, atau naik Busway sekedar ingin lihat macetnya Jakarta, Naik MRT cuman buat insta Story. Bagaimanapun juga memang identitas “orang desa” saya nggak bisa disembunyikan, dimanapun saya hidup, tetap saja saya pernah mempercayai mitos “ulo ndas nyonya” yang ada di menara RSI Luamajang, sial sekali, hahaha.

 

 

 

Covid19

(naik KRL)

Jalanan ramai setiap hari banyak orang beraktivitas, perumahan penduduk juga padat. Pemandangan itu sudah pasti saya lihat setiap hari. Sampai telah dikonfirmasi telah ada 2 warga depok yang terjangkit Covid19.

Hari pertama, berita bermunculan dari Grup Whatsapp bahkan ada yg menginfokan titik lokasi rumah pasien Covid tersebut. Hari itu Depok langsung sepi, tidak ada lagi aktivitas orang orang seperti biasanya, toko dan warung sepi pengunjung. Dan ya, kita takut, saya takut, semua orang takut.
Sampai hari kedua, ketiga, dan sekitar seminggu kemudian, hidup di kota besar mulai susah tanpa ekonomi yang berjalan semestinya, orang sepertinya mulai mati rasa. Covid19 akan membuat mereka sakit dan akhirnya mati, akan sama saja akhirnya jika mereka tidak bekerja, tidak ada yang bisa mereka makan hari ini.

Aktivitas mulai bermunculan, orang – orang mulai tak peduli karena life must be go on. Ditambah lagi diawal pandemi, ada salah satu RS yang sudah menyusun pricelist untuk Covid19. Tertulis, biaya untuk test swab sebesar 2.5 jt. Dan saya kira wah mahal juga ya, membuat saya sekilas pernah kepikiran :

 

 

 

“Orang yg test Covid19 pakai Swab Test, dan dinyatakan negatif
mungkin akan tetep sakit juga
setelah melihat baiaya periksanya :D”

 

 

New Normal

Semua orang memakai masker,
semua orang menjaga jarak agar virus ini tidak menyebar,
semua orang mulai menambahkan hand saitizer sebagai barang yang harus ada dalam tas mereka,

keadaan mulai ramai tapi tak se-ramai seperti ketika saya pertama kali tinggal disini.
warung makan dan toko toko beberapa mulai tutup, bahkan ada yang ditutup paksa satpol PP.

tidak ada warteg yg ramai
tidak ada ojek online
tidak ada nongkrong bareng temen2
tidak ada comedy club yang beraktivitas

saya yang ke kantor biasanya naik ojek online sekarang mulai naik sepeda saya sendiri
saya sebisa mungkin saya memasak sendiri untuk makan sehari – hari
saya mencukur rambut saya sendri
saya mulai mencari kegiatan lain yang bisa saya lakukan agar saya tetap produktif
saya mulai menyisihkan uang saya untuk membeli beberapa buku

Banyak orang di PHK karena kantor mereka tidak mampu untuk survive (Alhamdulillah kantor saya masih survive).
Pemerintah mengumumkan tidak diperbolehkan mudik. Pada tanggal 16 Mei 2020, saya dapat sms dari KAI, ada pemberitahuan bahwa tiket saya sudah di cancel. Dan beginilah jadinya, untuk pertama kalinya saya harus berlebaran di posisi yang cukup jauh dari rumah, dari keluarga. Hanya bisa telfon, chat dan vidio call dengan orang – orang di rumah. Ada perasaan sedikit kesal sebenarnya :

“Tau gini sebelum pandemi, saya nikah dulu ya,
Biar nggak kesepian gini :D”

 

 

Hingga akhirnya hari ini saya berharap, keadaan cepat membaik sehingga kita tetap bisa beraktivitas, bersenang – senang dan berbuat sesuatu yang positif seperti biasanya. Have a Nice Day!

Halo teman2 saya Iqbal Muzakki, Orang Lumajang yang berkarir di dunia IT dan Comedy. Sekarang sedang keliling – keliling dunia untuk melihat – lihat bekal mana ini yang bisa saya bawa pulang.
Translate »